Pola Kerusakan Peralatan

Sebuah team maintenance sedang memasang vertical turbine pump baru berikut electric motor yang baru dan sekaligus melakukan commisioning. Banyak variabel yang mempengaruhi kesuksesan pekerjaan ini. Engineering mendesign proses dan pemilihan pompanya. Construction memasang barrel dan foundation untuk pompa. Mekanik melakukan pemasangan pompa, alignment shaft pompa dengan motor, memasang mechanical seal, dll. Electrician memeriksa motor, menyambung kabel motor, dll. Operator membuka tutup suction & discharge valve dan memastikan proses akan berjalan sebagaimana mestinya. Begitulah suatu pekerjaan baru untuk pemasangan peralatan yang baru, ditambah dengan banyaknya personnel yang terlibat. Probabilitas kerusakan dan kegagalan (failure) peralatan tentu saja tinggi. Satu kesalahan ”kecil” saja, misalkan lupa mengisi lube oil pada electric motor dapat berakibat fatal, motor akan macet (jammed). Jadi untuk peralatan baru kemungkinan terjadinya failure sangat tinggi.

Setelah commisioning, pompa tersebut akan dimonitor untuk beberapa saat (jam/hari). Setelah normal dan tidak ada problem (vibrasi rendah, discharge pressure & ampere OK) , probabilitas failure-nya akan rendah dalam jangka waktu tertentu (misal 6 bulan). Setelah itu probabilitas failure-nya akan meningkat tajam, yang ditandai dengan tingginya vibrasi misal karena bearing pompa aus (worn out).

Tingginya probabilitas failure pada saat commisioning, kemudian rendah untuk waktu tertentu, kemudian meningkat lagi dapat digambarkan dalam sebuah kurva yang disebut  ”Bathtub Curve” atau ”Mean To Time Failure” (MTTF). Bathtub Curve/MTTF

Umumnya manufacture menetapkan penggantian suatu part atau unit berdasarkan statistik MTTF-nya (tentu saja melalui penelitian terhadap banyak peralatan sejenis) sehingga dapat dijadikan patokan usernya, misal penggantian gas turbine engine tiap 40.000 jam operasi, penggantian lube oil tiap x jam operasi, dsb. Pengalaman teknisi terhadap suatu peralatan juga kadang dapat dijadikan acuan, misalkan air compressor tiap 5 tahun performance-nya mulai menurun, maka teknisi pada tahun ke-4 dapat meng-order yang baru sehingga dapat menggantinya sebelum tahun ke-5.

 

Pola kegagalan diatas disebut Pola kegagalan tergantung waktu/umur (age-related failures), jadi kegagalannya teratur seiring umurnya. Ada juga kegagalan yang tidak teratur, atau kegagalan acak (random failures), artinya failure dapat terjadi kapan saja dengan probabilitas yang sama sepanjang waktu, tidak ada patokan. Meskipun demikian ada tanda-tanda sebelum failure terjadi.Misal wire rope pada crane karena digunakan untuk beban yang berbeda-beda antara satu crane dengan crane yang lainnya, disamping itu tergantung skill operator crane dalam mengoperasikannya maka periode failure pada wire rope ini bervariasi. Pada pola seperti ini tidak cocok bila diterapkan manajemen perawatan seperti pada age-related failures. Pada pola ini lebih tepat bila digunakan Predictive Maintenance untuk melihat ”tanda-tanda” failure yang terjadi (dalam kasus wire rope harus dikombinasikan dengan PM seperti melumasinya secara rutin). Secara visual, operator crane dapat memeriksa kondisi luar wire rope-nya apakah ada kinking, wire strand yang putus. Sedangkan kondisi core (bagian dalamnya) harus menggunakan alat.

Sebagai contoh tambahan dari kegagalan acak (yang saya ambil dari web migas indonesia) adalah kasus pada ball bearing. Sebuah penelitian terhadap 30 buah deep groove ball bearing yang sama, yang diuji dalam kondisi terkontrol sampai mengalami kerusakan  membuktikan bahwa periode kerusakan bearing ini tidak seragam  Mean Time To Failure-nya dengan tingkat keyakinan 95% sulit ditentukan (waktu failurenya berbeda jauh). Karena tidak adanya batas umur kegagalan ball bearing  secara statistik dengan tingkat deviasi yang kecil maka lebih tepat bila dengan PdM/Condition Monitoring misal dengan Vibration analysis.

Ringkasannya, berdasarkan tingkat probabilitas failure suatu peralatan terhadap waktu ada 2 tipe failure : age-related failures (Pola kegagalan tergantung waktu/umur) dan random failures (Pola kegagalan acak) dimana akan mempengaruhi tindakan maintenance yang dilakukan.

 

Sepinggan Field, 2 oktober, 2011

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s