Preventive Maintenance (bag. 2)

Tulisan sebelumnya tentang PM yang merupakan tindakan maintenance/perawatan/ pemeliharaan secara berkala. Berkala disini artinya rutin, jadi PM merupakan aktifitas rutin, dapat mingguan/bulanan/sesuai running hours/sesuai anjuran manual book. Jadi pengendalinya adalah waktu (time driven). Contoh sederhananya, penggantian lube oil pada air compressor per 500 jam atau pada sepeda motor/mobil berdasarkan kilometernya (2000 km/4000 km/10.000 km, dsb). Begitu parameter diatas tercapai, oli tersebut diganti tanpa bertanya-tanya “ jangan-jangan olinya masih bagus? Gak usahlah kita ganti”. Juga tanpa kita periksa dengan lube oil analysis di lab (kekentalannya, kontaminasi material, dll), pokoknya hanya dikendalikan waktu saja.

Mudah, itulah mungkin kelebihan dari PM. Karena “time driven” maka mudah diplanningkan dan mudah di-schedule-kan pekerjaannya. Mudah dalam penyediaan dan pengendalian spare part-nya. Mudah dalam estimasi budgetnya. Mudah dilakukan oleh pekerja karena hanya berupa minor repair atau TLC (Tighten, Lubrication, Cleaning) saja. Mudah koordinasinya karena arahnya pada peralatan yang tingkat critical-nya lebih kecil sehingga komunikasi lebih cepat dan tidak ribet. Mudah, karena hanya tinggal mengikuti apa yang ditulis di manual book. Disamping itu, frekwensi breakdown dapat dikurangi dengan mudah, life time peralatan juga semakin panjang.

Namun dari pengamatan ada beberapa kekurangan PM. Dalam PM peralatan harus berhenti, kemudian dilakukan minor disassembly sesuai jadwal. Pada field yang cukup luas dengan peralatan yang banyak, work order juga akan menjadi banyak. Hal ini akan menyita biaya dan waktu yang cukup banyak. Ditambah lagi dengan personnel yang sedikit, ketelitian dalam melakukan PM akan berkurang sehingga muncul potensi kerusakan baru yang sebelumnya tidak ada. Setelah di-PM malah jadi rusak, begitu ungkapan yang ada. Tidak adanya monitoring dan trending sehingga breakdown masih tinggi untuk equipment tua. Tidak adanya trending tersebut juga akan menyulitkan rootcause analysis failure yang terjadi.

Dari kekurangan diatas dimana PM hanya dikendalikan oleh waktu tanpa mengamati kondisi equipment, dalam perkembangannya dimasukkan pula condition monitoring. Dari pengamatan kondisi equipment (getaran, temperature, kondisi lube oil, dll) dengan menggunakan berbagai macam tools kemudaian dibuat trending-nya sehingga dapat diprediksi (Predictive) kondisinya. Dengan Predictive Maintenance (PdM) inilah perawatan dapat lebih terencana, kapan harus shut down, pembelian spare parts, pengaturan man power, juga persiapan tools. Hal inilah yang menyebabkan ada yang memasukkan aktivitas PdM dalam task PM.  Dengan dimasukkannya monitoring inilah PM tidak hanya menjadi aktifitas rutin yang berlalu begitu saja, tetapi benar-benar menjadi aktifitas preventive (pencegahan) terjadinya kerusakan.

Pos ini dipublikasikan di PM. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Preventive Maintenance (bag. 2)

  1. efan_leite berkata:

    mantaps gan sharenya,
    semoga bisa istiqomah nulisnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s